Monday, September 21, 2026

 Siung Cliff is located at Siung Beach in Gunungkidul, Yogyakarta, approximately 65 kilometers from Yogyakarta city center. The journey takes around 1.5 to 2 hours by car or motorcycle, leading visitors away from the city and into the dramatic coastal landscape of southern Gunungkidul.

Siung Beach is known for its unspoiled coastal scenery, clear views of the Indian Ocean, and impressive limestone cliffs rising around the shoreline. These cliffs have made Siung much more than a beach destination—they have also established it as one of Yogyakarta’s best-known natural rock climbing areas.

Historically, Siung has been reported to have around 250 climbing routes, offering a wide variety of challenges for climbers of different experience levels, from recreational and sport climbing to more demanding routes for experienced climbers.

For rock climbing enthusiasts, Siung Cliff has long been a special place.

On weekends, climbers from climbing communities, university outdoor clubs (Mapala), climbing clubs, and independent groups come to Siung. Some simply want to spend a weekend climbing and enjoying the coast, while others come for serious training—to build endurance, improve their technique, take on challenging routes, and strengthen their confidence on natural rock.

Yet for first-time visitors, finding reliable information about Siung Beach and its climbing areas has not always been easy. Beginner climbers, in particular, may want to experience climbing at Siung but have no idea where to start, which routes are suitable for them, or whom they should contact for assistance.

That is why we are here.

We provide local tourism assistance and technical climbing guidance for visitors who want to explore Siung Beach and experience rock climbing at Siung Cliff. Our aim is simple: to help visitors enjoy the experience with appropriate guidance, equipment, and proper climbing safety procedures.

Siung is more than a beautiful beach on the southern coast of Yogyakarta. It is a meeting place for the sea, the cliffs, and generations of climbers who have come here to challenge themselves

more info climbing route visit here

Saturday, May 23, 2020

SENSASI TREK WISATA MATA AIR MANTAN EKOWISATA HUTAN TINJOMOYO

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, Indriyasari, SE atau lebih dikenal dengan nama IIN melaunching atraksi baru yaitu Jalur Tracking Air Mata Mantan. Atraksi ini dikembangkan sebagai implementasi perubahan konsep pengembangan dari Hutan Wisata menjadi Ekowisata Hutan. Sebelum diresmikan, Karis selaku Kepala Seksi Destinasi Melaporkan bahwa Gagasan Inovasi Pengembangan Hutan Tinjomoyo menjadi Kawasan Ekowisata didasari kekayaan hutan tinjomoyo akan plasma nuftah, keanekaragaman hayati, Sumber Oksigen dan daerah Resapan Air sehingga keberadaannya harus di lestarikan untuk menyangga kehidupan masyarakat Kota Semarang. Dengan konsep ekowisata maka partisipasi masyarakat sangat diperlukan dalam rangka menjaga dan sejkaligus dapat menikmati keberadaan hutan tinjomoyo.

Gagasan ini didukung oleh Kepala Bidang Industri Pariwisata, Syamsul Bahri Siregar, SH, MM yang menyatakan bahwa Pembangunan Tinjomoyo ke depan harus di dukung infratruktur yang memadai sehingga akan di usulkan dalam anggaran Dana Alokasi Khusus Kementerian Pariwisata. Sementara, Indriyasari, SE saat meresmikan Jalur Tracking Air mata mantan yang diikuti oleh peserta dari seluruh asosiasi kepariwisataan di Kota Semarang melalui Vidcon Zoom Meeting, dan juga disiarkan secara live melalui instagram disbudparkota semarang menyatakan mendukung penuh konsep dan gagasan inovasi ini dan berpesan agar mensinkronkan dengan rencana pembangunan yang sudah ada sebelumnya dengan penyesuaian-penyesuaian sesuai konsep pengembangan yang baru.
Setelah acara peresmian selesai, karis selaku Kepala Seksi Destinasi Pariwisata Pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang menceritakan lebih detail tentang konsep pengembangan jalur tracking air mata mantan. 
Jalur Tracking Air Mata Mantan adalah sebuah jalur ekowisata menyusuri lebatnya hutan tinjomomoyo dengan titik start di Pohon Beringin Cinta dan titik Destination di Top Selfie Air Mata Mantan. Dalam perjalanan dari titik start sampai titik destination menyusuri hutan, Pemandu Wisata akan menjelaskan beberapa fenomena alam yang terjadi di Ekowisata Hutan Tinjomoyo terkait Fungsi Hutan Tinjomoyo :
  1. Sumber Oksigen sehingga dijuluki “Paru – Parunya nya kota Semarang”
  2. Sumber Plasma Nuftah dan Keanekaragaman hayati dengan keberadaan berbagai jenis flora dan fauna
  3. Daerah Resapan Air sehingga menopang  kebutuhan air bersih masyarakat semarang bawah sebagai sumber kehidupan
Agar dapat menjalankan fungsinya dengan baik maka perlu dilakukan usaha – usaha konservasi dan kepedulian masyarakat dan pengunjung. Penjelasan proses fenomena alam dan kaitan satu proses dengan yang lain untuk mengoptimalkan fungsi hutan inilah merupakan core atau inti dari atraksi ekowisata “air mata mantan”

Dinamakan air mata mantan karena jalur ini ditemukan berawal dari penyusuran mencari air bersih untuk meningkatkan pelayanan wisatawan di Hutan Tinjomoyo. Perjalanan tersebut menyusuri hutan menuju Mata Air yang dahulu pernah dipakai untuk memenuhi kebutuhan (mantan) Bonbin Tinjomoyo. Dalam penyusuran tersebut ditemukan fenomena alam yang luar biasa yaitu pipa – pipa yang digunakan untuk mengalirkan air dari mata air ke (mantan) bonbin selalu patah terkena longsoran di suatu lereng yang agak terjal sehingga setiap kali hujan lebat terjadi longsor maka suply air akan terhenti dan petugas akan berjalan menyusuri hutan untuk memperbaiki pipa – pipa tersebut.. Membayangkan betapa beratnya jalur yang dilalui para petugas pengairan  melalui  jalur tersebut sampai tak terasa meneteskan air mata .. ibarat air mata mantan yang selalu rindu namun harus rela melepaskan :]
Sehingga tempat longsoran yang mematahkan pipa pipa tersebut dinamakan top selfie air mata mantan sedangkan jalur trekking untuk menuju ke sana disebut jalur trekking Air Mata Mantan

Wednesday, November 2, 2011

Sleman Juara Umum Panjat Tebing Porprov DIY XI 2011


Klasemen Akhir Perolehan Medali Panjat Tebing Porprov XI Tahun 2011. Persaingan sangat ketat antara Sleman dan Kota, dan berdasarkan perhitungan nilai, Sleman unggul 5 poin atau setara dengan 1 emas. Target Sleman adalah 7 emas 7 Perak dan 6 Perunggu atau total poin 62, namun di perjalanan merubah strategi bermain aman untuk mencari keunggulan poin tanpa memperhatikan jumlah emasnya berapa namun bagaimana bisa unggul poin di akhir kompetisi. Dan hasilnya seperti diatas. Sleman Juara Umum. Selamat untuk Tim Panjat Tebing Sleman!